Ritual Adat Menoik’i Rumah Besar Jurongk Tinggi: Menyemai Harmoni dan Komitmen Membangun Ketapang

Ritual Adat Menoik'i Rumah Besar Jurongk Tinggi di Pendopo Bupati Ketapang: makna tradisi, ajakan pemimpin untuk bersatu pasca-pilkada, dan komitmen membangun infrastruktur serta keharmonisan masyarakat. Simak kisah kolaborasi budaya dan pembangunan di Kabupaten Ketapang

Mar 5, 2025 - 23:19
Ritual Adat Menoik’i Rumah Besar Jurongk Tinggi: Menyemai Harmoni dan Komitmen Membangun Ketapang

celungap.com - Kabupaten Ketapang kembali mengukuhkan nilai-nilai kearifan lokal melalui Ritual Adat Menoik’i Rumah Besar Jurongk Tinggi yang digelar di Pendopo Bupati Ketapang pada Rabu, 5 Maret. Ritual ini dilaksanakan sebagai bentuk syukur dan permohonan keberkahan serta ketenteraman bagi para pemangku jabatan yang akan menempati rumah dinas. Tak hanya menjadi sarana spiritual, acara ini juga menjadi ajang mempererat tali silaturahmi antarwarga, tokoh adat, dan pemerintah setempat.





Ritual adat ini merupakan tradisi turun-temurun masyarakat Ketapang, khususnya dari delapan komunitas adat yang hadir: Simpang Sekayok, Laor-Joka, Bihak-Krio, Kayong-Gerunggang, Pesaguan Sekayok, Jelai Sekayok, Tolak Sekayok, dan Kendawangan Seakaran. Prosesi ini tidak hanya menyimbolkan harapan akan kehidupan yang harmonis di rumah jabatan, tetapi juga mencerminkan filosofi kebersamaan dalam membangun daerah. Dalam sambutannya, Bupati Ketapang menyampaikan apresiasi mendalam kepada seluruh perwakilan adat yang hadir:
“Saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh masyarakat adat yang telah menjaga tradisi dan mendukung kemajuan Ketapang. Kehadiran Bapak/Ibu hari ini adalah bukti komitmen kita bersama untuk merawat kebudayaan sebagai pondasi pembangunan.”

Sebagai pemimpin terpilih, Bupati Ketapang menegaskan tekadnya untuk mengemban amanah dengan integritas. Ia berjanji memprioritaskan pembangunan infrastruktur seperti jalan, jembatan, air bersih, jaringan telekomunikasi, dan listrik, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Sebagai ucapan terima kasih, kami akan balas dengan menjaga mandat rakyat. Ketapang harus maju secara merata, dari kota hingga pelosok. Tidak ada yang boleh tertinggal,” tegasnya.

Ia juga menekankan pentingnya inklusivitas dalam kepemimpinannya. “Ketapang adalah rumah besar bersama. Saya ingin semua elemen masyarakat, tanpa memandang suku dan agama, bersinergi menciptakan keharmonisan. Hanya dengan persatuan, kita bisa mewujudkan Ketapang yang aman, kondusif, dan berkeadilan.”

Menyadari dinamika politik pascapemilihan, Bupati mengajak seluruh masyarakat melupakan sekat pendukung nomor urut tertentu. “Kontestasi pilkada sudah usai. Kini, tidak ada lagi 01, 02, atau 03. Kita semua kembali ke ‘kosong-kosong’—hanya ada satu identitas: masyarakat Ketapang yang ingin daerahnya maju dan mandiri,” serunya.

Ajakan ini sejalan dengan visinya bahwa pembangunan tidak mungkin diwujudkan sendirian. “Kemajuan Ketapang bukan hanya tugas Bupati dan Wakil Bupati, tetapi butuh dukungan seluruh stakeholder: tokoh adat, agama, pemuda, hingga pelaku usaha. Sinergi ini kunci utama,” ucapnya.

Ritual adat Menoik’i Rumah Besar Jurongk Tinggi menjadi simbol dimulainya babak baru kepemimpinan yang mengedepankan kolaborasi. Dengan menggali kekuatan budaya lokal dan membuka ruang dialog antar kelompok, pemerintah berharap dapat mempercepat pembangunan yang berkelanjutan dan inklusif.

Sebagai penutup, Bupati mengingatkan: “Membangun Ketapang adalah tugas kita bersama. Mari jadikan keberagaman sebagai energi, bukan penghalang. Saya yakin, dengan gotong royong, Ketapang yang maju dan mandiri bukan sekadar mimpi.”

Dengan semangat ritual adat ini, masyarakat Ketapang diajak untuk terus merawat tradisi sambil melangkah bersama menuju kemajuan yang berkeadilan.

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow